Abstract
Cinta dalam tradisi romantis sering kali diagungkan sebagai pencapaian spiritual tertinggi manusia. Namun, filsafat kontinental abad ke-19, khususnya melalui pemikiran Arthur Schopenhauer, merobek narasi tersebut dan menempatkannya dalam ruang bedah yang dingin sekaligus realistis. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan pemikiran Schopenhauer tentang cinta secara komprehensif tanpa terjebak dalam jargon yang mengasingkan pembaca awam. Melalui pemisahan metodologis yang tegas antara kesadaran subjektif manusia (representasi) dan dorongan purba alam (Kehendak), tulisan ini membedah bagaimana cinta bekerja sebagai instrumen biologis yang manipulatif demi keberlanjutan spesies. Hasil analisis menunjukkan bahwa dekonstruksi terhadap klise romantis ini tidak serta-merta menjerumuskan manusia ke dalam nihilisme, melainkan membuka ruang epistemik baru bagi lahirnya empati universal (compassion) sebagai resolusi etis atas penderitaan eksistensial
Keywords
References
- Beiser, F. C. (2008). Weltschmerz: Pessimism in German Philosophy, 1860-1900. Oxford: Oxford University Press.
- Janaway, C. (1989). Self and World in Schopenhauer's Philosophy. Oxford: Oxford University Press.
- Magee, B. (1997). The Philosophy of Schopenhauer (2nd ed.). Oxford: Clarendon Press.
- Schopenhauer, A. (1969). The World as Will and Representation (Vol. 2). (E. F. J. Payne, Trans.). New York: Dover Publications. (Karya asli diterbitkan tahun 1844).
- Schopenhauer, A. (2015). The Metaphysics of Love. London: Forgotten Books.
- Young, J. (2005). Schopenhauer. London: Routledge.